Translate

Sabtu, 10 Januari 2015

HIDUP BHAKTI DALAM PENGHAYATAN SEHARI-HARI


Selama tiga hari para suster yunior telah mencoba bergelut dengan hakekat hidup  sebagai seorang suster Wajah Kudus, yang mengikrarkan Kaul-kaul, hidup dalam komunitas dan menghayati tuntutan hidup rohani sehingga mencapai kualitas hidup rohani tertentu
  Hidup bhakti adalah sebuah panggilan untuk hidup yang diwjudkan melalui pelayanan dan  tugas tertentu. 


 
   Allah terlibat dalam seluruh proses panggilan dan jawaban manusia. Ketika kita memberikan jawaban atas panggilan Allah berarti kita telah mengatakan “ya” terhadap tawaran Allah, sebaliknya penolakan terhadap panggilan untuk hidup bhakti berarti memutuskan untuk menjatuhkan pilihan pada jenis panggilan hidup lain. 



Kita hendaknya bersyukur dan berbangga atas panggilan kita.
   Hidup doa menjadi unsur esensial dalam hidup bhakti. Sebagai religius tugas dan karya kita yang utama adalah berdoa.
Doa menjadi dasar, sumber kekuatan dan inspirasi utama karya kerasulan kita. Doa merupakan kewajiban kaum religius.
  Karena itu acara harian komunitas biara selalu dibuka dan ditutup dengan kegiatan-kegiatan rohani (doa, meditasi, ekaristi, dll), lalu dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lainnya..
 Tugas utama adalah berdoa maka kita perlu tahu tentang hakekat doa dan berdoa, dan menjadi manusia pendoa.
Doa yang sejati lahir dari hati. Tempat doa adalah hati dan bukan kepala. Ketika mau berdoa pertama-tama kita mesti menyiapkan suasana bathin. Karenanya doa menuntut waktu tertentu dan kehendak yang baik. Itulah sebabnya pendoa adalah seorang pencinta atau orang yang mencinta, dan hanya bisa mencintai Allah dia yang mengenalNya dan sadar bahwa ia dicintai oleh Allah. Doa yang sejati adalah ungkapan cinta yang terpancar dari hati (bdk. Mat 12,34): “Yang diucapkan mulut keluar dari hati”.
Doa yang benar dapat menjamin kebahagiaan hidup yang lebih besar; berbahagia berkontak dengan Allah. Karena kelimpahan hati yang mencinta dan bersatu dengan Allah terungkap melalui perasaan seperti gembira, sukacita, damai, syukur, pujian dan terima kasih.


 

...kita merasa terpanggil untuk keluar dari dirinya sendiri, meninggalkan pandangan dan keyakinan-keyakinan pribadi lalu mengambil posisi lain dan masuk dalam pengalaman orang lain... Bergembiralah dan bersukacitalah...

Yesus dibaptis !


 

"Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." 
 

"Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Luk 3:21-22).

Untuk mengawali tugas perutusanNya Yesus menyatukan diri dengan orang banyak/masyarakat antara lain minta dibaptis oleh Yohanes, dan ketika selesai pembaptisan terdengarlah suara dari sorga: Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.
Dibaptis berarti dibersihkan, disucikan sehingga yang bersangkutan bersih dan suci serta berkenan bagi Tuhan maupun sesamanya. Bukankah ketika dibaptis kita juga merasakan atau menghayati pengalaman tersebut? Maka baiklah kita dengan rendah hati serta bantuan rahmat Allah senantiasa berusaha menjaga, merawat dan mempertahankan kebersihan atau kesucian kita, tentu saja tidak sendirian melainkan bersama-sama dengan saling membantu dan mengingatkan.
Maka pada pesta pembaptisan Tuhan ini, kita diajak untuk memperbarui hubungan kita dengan Allah, untuk mempererat hubungan kita dengan-Nya supaya kita dapat hidup seperti Yesus hidup.
 Yesus ini sendiri mengatakan bahwa makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa (Yoh 4:34). Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang Yesus perbuat, Ia lakukan dalam persatuan dengan Bapa-Nya. Inilah tujuan akhir dari pembaptisan kita, supaya kita hidup dalam persatuan dengan Allah dan apapun yang kita lakukan, kita lakukan untuk Dia (Kol 3:17).
Semoga kita juga menjadi anak-anak yang dikasihi Allah, yang kepada kita Ia berkenan.