"Wajah-Mu kucari ya Tuhan, janganlah Kau sembunyikan Wajah-Mu daripadaku" (MZM 27,8-9).
Translate
Kamis, 26 Februari 2015
Wajah Yesus .
Wajah Yesus yang Kudus,
aku akan menkontemplaiskanNya:
dalam Dia mataku tertuju penuh cinta;
kepadaNya semua penyilihanku. (Notes 10, p. 2)
Bagi Beata Maria Pia Mastena, Wajah Yesus menjadi dasar..
Ia terus menerus berusaha untuk memulihkan, menyilihNya.
Tiada satu detik pun yang disia-siakan.
Waktu adalah anugerah sehingga perlu diisi dengan doa, korban,amal bakti,
Sabtu, 14 Februari 2015
Suster Wajah Kudus bermisi
Suster Maria.., demikian perempuan kelahiran Wolokoli, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini biasa disapa oleh orang-orang yang mengenalnya. Anak dari Paulus Poa dan Ibu Victoria Lamen ini memilih hidup membiara menjadi suster (Sr) dan kini telah bertugas di berbagai negara, seperti Roma, Italia dan Bolivia, Amerika Latin dalam CONGREGAZIONE DEL SANTO VOLTO (CSV). Saat berkomunikasi dengan Floresnews.com, perempuan pemberani bernama lengkap Sr. Maria Fifi Sumanti, CSV, mengungkapkan kegembiraan iman yang telah mengantarnya menjadi seorang pekerja penabur benih cinta kasih di dunia ini.
Berikut kisah dan refleksi imannya yang dikirim ke redaksi media ini dari Kota Bolivia:
Menjawab panggilan Tuhan adalah sebuah pengalaman hidup yang mendalam, kerena melibatkan Iman, kemauan dan keberanian. Dalam menjawab panggilan Tuhan pun teryata tidak sekali jadi, tetapi melalui sebuah proses yang terus menerus, bahkan seumur hidup.
Mengapa saya memilih “”berpetualang dalam cinta” sebagai topik untuk mensharingkan tentang pengalaman hidup dan panggilan saya? Bagi saya, setiap saat dan setiap waktu dalam hidup saya adalah sebuah petualangan cinta. Saya lahir, ada dan hidup, bukan kerena kebetulan tetapi kerena “Cinta” dan keputusan untuk menjadi suster pun adalah karena “Cinta”. Bagi saya cinta adalah sebuah petualangan hidup. Apapun yang terjadi dalam setiap hidup dan kehidupan saya, saya percaya dan yakin bahwa itu semua karena “Cinta”. Segala tantangan dan cobaan yang ada, dan yang akan datang saya percaya, kalau Tuhan punya rencana di balik semuanya itu.
Menjadi religius atau menjadi seorang biarawati, bukanlah cita – cita saya sawaktu kecil, namun berdasarkan pengalaman, muncul kesadaran dan pemahaman bahwa setiap orang dalam hidupnya dihadapkan pada sebuah pilihan yaitu; pilihan untuk menghayati hidup sesuai dengan keyakinan sebagai sebuah jawaban atas panggilan Tuhan.
Sebenarnya perkenalanku dengan kaum religius, sudah sejak masa kanak – kanak. Di keluargaku ada 1 orang pastor Projo dan 2 orang suster OSF. Namun demikian, saya tidak merasa tersentuh untuk menjadi seorang suster. Memang, ada sesuatu yang menarik dalam figur kepribadian mereka yang membekas di hati saya, yaitu perasaan kagum dan senang ketika saya melihat dan bertemu mereka, namun itu hanya sebatas sebuah perasaan senang dan kagum, tidak membangkitkan sebuah keinginan dari dalam hati saya untuk menjadi seorang biarawati.
Waktu SMA, ada beberapa biara yang datang untuk memperkenalkan konggregasi dan sekalian untuk promosi panggilan, tetapi bagi saya tidak ada sesuatu yang begitu istimewa, dan hati saya tidak tergerak untuk hidup membiara. Memang dalam perjalanan waktu, saat hidup menuntut saya untuk memilih, saya mencoba dan berusaha untuk bertanya pada diri saya sendiri; Mengapa saya hidup? Kemana saya pergi dan apa sebenarnya yang saya inginkan dalam hidup ini? Pertanyaan – pertanyaan ini selalu berputar kembali dalam pikiran saya dan menghantar saya pada sebuah pilihan hidup.
Lalu, mengapa saya memilih untuk menjadi suster? Tentu bukan untuk sebuah “karir”, di zaman sekarang menjadi seorang wanita “karir” tentu bukan dengan memutuskan untuk menjadi biarawati. Untuk mendapatkan pujian dari orang lain? Kita semua telah mengetahui, apa yang orang – orang pikirkan tentang kaum religius; Juga tentu bukan untuk memiliki para penggemar di sekeliling yang mencintai dan mengagung – agungkan.
Untuk bisa menolong dan menjadi orang yang berguna untuk orang lain? Semoga dan mudah mudahan. Ketika kita mengetahui bahwa sering kali, orang – orang yang berelasi dengan kita atau orang – orang yang datang untuk megunjungi dan bertemu dengan kita kaum religius hanya untuk “menginginkan sesuatu” dari kita, sebuah bantuan atau pertolongan yang hanya bersifat sementara, mungkin juga meminta tanpa sebuah kejujuran.
Saya memilih dan memutuskan untuk “Hidup Bakti”, hidup hanya untuk Tuhan seperti halnya Santo Agostino d’Ippona. Santo Agustinus, sebelum bertobat dan kemudian menjadi imam dan uskup di Ippona, beliau mengalami segala macam pengalaman yang baik dan tidak baik, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, yang pada akhirnya Agustinus sendiri berhenti. Pertanyaan mengapa día berhenti, kita temukan dalam kata – katanya yang dalam bahasa latin; “et inquietum est cor nostrum donec requiescat in te.”(dan hati kami gelisah sebelum beristirahat di dalam dikau). Adalah sebuah kepasrahan dari setiap manusia untuk mencapai kedamain dalam hatinya.
Saya melihat, mengenali dan menerima diriku sendiri apa adanya, dan saya merasakan sentuhan kasih Allah dalam hidup saya. Dan sentuhan kasih Allah inilah yang mendorong saya untuk menyerahkan seluruh diri dan hidup saya untuk “Menyebarkan, Menyilih dan Memulihkan Wajah Yesus di dalam Alam Jiwa – Jiwa,” dalam tarekat Konggregasi Wajah Kudus. (bersambung) (BKR/sf/fn)
Selasa, 10 Februari 2015
HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2015
Pesan Bapa Suci, Paus Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia yang ke - 23 tahun 2015
Pesan Bapa Suci, Paus Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia yang ke - 23 tahun 2015
Rabu, 11 Februari 2015

Kebijaksanaan Hati “Aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayub 29:15)
Saudara-saudara terkasih,
Pada Hari Orang Sakit Sedunia yang ke-23 ini, yang telah dimulai oleh St. Yohanes Paulus II, saya kembali kepada Anda semua yang menderita sakit dan yang dalam berbagai cara disatukan dengan penderitan tubuh Kristus, dan juga kepada Anda, para ahli dan relawan di bidang perawatan kesehatan.
Tema tahun ini mengundang kita untuk merenungkan satu ungkapan dari Kitab Ayub; “Aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayb 29:15). Saya ingin mengulas ungkapan ini dari sudut pandang “sapientia cordis”-kebijaksanaan hati.
- Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang teoritis, pengetahuan abstrak, atau hasil penalaran logis. Lebih dari itu, dalam suratnya St. Yakobus melukiskan kebijaksanaan sebagai “hikmat yang murni, selanjutnya pendamai, peramah lemah-lembut, penurut, penuh kasih, penuh belas-kasihan dan buah-buah baik, tidak ragu dan tidak munafik” (Yak 3:17). Inilah cara pandang yang dijiwai Roh Kudus di dalam pikiran dan perasaan mereka yang peka terhadap penderitaan saudari-saudarnya dan yang dapat memandang di dalam diri mereka gambar Allah. Untuk itu, marilah kita daraskan doa Pemazmur: “ Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm 90:12). “Kebijaksanaan hati” yang merupakan karunia Allah ini adalah rangkuman dari buah-buah hari Orang Sakit Sedunia.
- Kebijaksanaan hati berarti melayani saudari dan saudara kita. Kata-kata Ayub: “Aku menjadi mata bagi orang buta , dan kaki bagi orang lumpuh,” menunjukkan pelayanan orang saleh ini, yang menikmati kekuasaan tertentu dan memiliki posisi penting di antara orang-orang tua di kotanya, memberikan bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Keagungan moralnya menemukan ungkapan tepat dalam pertolongan yang ia berikan kepada penderita yang berteriak minta tolong serta dalam kepeduliannya kepada anak yatim piatu dan janda-janda (Ayb 29:12-13)
Dewasa ini betapa banyak orang Kristiani yang menunjukkan, bukan dengan kata-kata tetapi dengan hidup yang berakar dalam iman sejati, bahwa mereka adalah “mata bagi orang buta, dan “kaki bagi orang lumpuh!” Mereka dekat dengan orang-orang sakit yang memerlukan perhatian dan bantuan terus menerus untuk membersihkan diri, memakaikan pakaian dan menyuapkan makanan. Pelayanan seperti ini, khususnya bila berlarut-larut, bisa menjadi sesuatu yang melelahkan dan membebani. Relatif lebih mudah membantu orang selama beberapa hari saja, tetapi sulit merawat orang selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun., apalagi dalam beberapa kasus khusus, bila tidak ada ungkapan terima kasih. Namun, sebenarnya betapa agung jalan pengudusan ini.! Dalam saat-saat yang sulit itu secara khusus kita dapat mengandalkan kedekatan Tuhan, dan kita menjadi sarana istimewa bagi perutusan Gereja.
- Kebijaksanaan hati berarti berada bersama dengan saudari-saudara kita. Waktu yang dilalui bersama dengan orang sakit adalah waktu yang suci. Ini adalah cara memuji Tuhan yang menyelaraskan kita dengan gambar Putera-Nya yang “datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Yesus sendiri mengatakan: “Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Luk 22:27).
Dengan iman yang hidup, marilah kita mohon kepada Roh Kudus supaya berkenan melimpahkan rahmat-Nya kepada kita untuk memahami kesiapsediaan diri yang seringkali tidak terkatakan untuk meluangkan waktu bersama saudari-saudara yang, dengan rasa terima kasih atas kedekatan dan kasih sayang kita, merasa lebih dicintai dan dikuatkan. Di sisi lain, tersembunyi suatu kebohongan besar di balik ungkapan tertentu yang menekankan pentingnya “kualitas hidup”, sehingga membuat orang-orang berpikir bahwa hidup yang dijangkit penyakit berat bukanlah hidup yang berharga!
- Kebijaksanaan hati berarti keluar dari diri sendiri menuju saudari-saudara kita. Adakalanya kita mengabaikan nilai istimewa dari waktu yang dilewatkan bersama dengan orang yang sakit di pembaringannya karena kita begitu terburu-buru; terjebak dalam kesibukan untuk melakukan sesuatu, untuk menghasilkan sesuatu, sehingga kita abai untuk memberikan diri sendiri secara bebas, untuk peduli kepada orang lain, dan bertanggung jawab terhadap orang lain. Di balik sikap seperti itu seringkali iman yang suam-suam kuku melupakan Firman Tuhan: “kamu telah melakukannya untuk aku” (Mat 25:40).
Oleh karena itu, saya akan menekankan kembali “prioritas mutlak “ keluar dari diri sendiri untuk masuk ke dalam kehidupan saudari-saudara kita’ sebagai satu dari dua perintah utama yang mendasari setiap norma moral dan sebagai tanda paling jelas untuk menilai pertumbuhan rohani dalam menanggapi anugerah yang diberikan Allah dengan cuma-cuma” (Evangelii Gaudium, 170). Sifat missioner Gereja menjadi sumber dari amal kasih yang berdaya guna dan bela-rasa yang memahami, membantu dan memajukan (ibid).
- Kebijaksanaan berarti menunjukkan solidaritas dengan saudari-saudara kita tanpa menghakimi mereka. Beramal kasih membutuhkan waktu. Waktu untuk merawat orang-orang sakit dan mengunjungi mereka. Waktu untuk berada di samping mereka seperti teman-teman Ayub : “Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat bahwa sangat berat penderitaannya” (Ayb 2:13). Tetapi, teman-teman Ayub memendam penghakiman terhadapnya : bahwa kemalangan Ayub adalah hukuman Tuhan atas dosa-dosanya. Padahal, amal kasih yang benar adalah berbagi tanpa menghakimi, tanpa menuntut perubahan dari orang lain; bebas dari kepalsuan yang jauh di lubuk hati, dari mencari pujian dan kepuasaan diri akan segala kebaikan yang dilakukannya.
Pengalaman penderitaan Ayub menemukan tanggapan tulus hanya di dalam salib Yesus, tindakan kesetiakawanan Allah yang tertinggi kepada kita, sepenuhnya cuma-cuma, berlimpah belas-kasih. Tanggapan kasih terhadap drama penderitan manusia khususnya penderitaan orang-orang yang tidak bersalah, tetap membekaskan kesan pada tubuh Kristus yang bangkit; luka mulia-Nya adalah skandal bagi iman, tetapi sekaligus juga bukti iman (bdk. Homili untuk kanonisasi Yohanes XXIII dan Yohanes pulus II, 27 April 2014).
Bahkan ketika penyakit, kesepian dan ketidakmampuan membuat kita sulit menjangkau orang-orang lain, pengalaman penderitaan dapat menjadi jalan istimewa untuk menyalurkan berkat dan menjadi sumber untuk memperoleh dan bertumbuh dalam kebijaksanaan hati. Kita menjadi mengerti bagaimana Ayub, di akhir pengalamannya dapat berkata kepada Tuhan : “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayb 42:5). Orang-orang yang tenggelam dalam rasa sakit dan penderitaan ketika menerima hal ini dalam iman, dimampukan menjadi saks-saksi hidup dari iman yang mampu merangkul penderitaan, bahkan meski tanpa mampu mengerti maknanya yang penuh.
- Saya mempercayakan Hari Orang Sakit Sedunia ini pada perlindungan keibaan Maria, yang mengandung dan melahirkan Sang Kebijaksanaan: Yesus Kristus, Tuhan Kita.
O Maria, Tahta Kebijaksanaan, jadilah perantara, sebagai Bunda kami bagi semua orang sakit dan mereka yang merawatnya! Anugerahkanlah itu, melalui pelayanan kami bagi sesama yang menderita, dan melalui pengalaman penderitaan itu sendiri, semoga kami menerima dan memupuk kebijaksanaan hati yang benar.
Dengan doa ini, untuk Anda semua, saya menyampaikan berkat Apostolik saya.
Dari Vatikan, 3 Desember 2014
Pada peringatan St. Fransiskus Xaverius
Paus Fransiskus
Disebarluaskan oleh : BN Karya Kepausan Indonesia Jl. Cut Meutia 10, JAKARTA 10340
Sabtu, 07 Februari 2015
Sesaat
DI MANAKAH MEREKA.....?
Sesaat.....
Kutatap Wajah-Wajah Sendu....
Yang Tergores Dalam Lubuk Hatiku
Ada Getaran Nada-Nada Cinta
Membahana Dalam Memori Jiwaku
Berbisik Penuh Harapan
Akankah Kujumpai Lagi Mereka?
Tak Ada Kata Lelah....
Ku Menelusuri Relung Hatiku
Penuh Hiasan Suka Dan Duka
Yang Kutapaki Setiap Hari
Perlahan Aku Berpijak
Ku Bertanya Dalam Hati
Di Manakah Wajah-Wajah Mereka?
Yang Menanti Dalam Ketakpastian?
Ku Coba Melangkah....
dalam Nada Penuh Harapan
Wajah-Mu Ku cari....
Janganlah Kau Sembunyikan WajahMu
Suster Edeltrudis Ye, CSV
Komunitas
KOMUNITAS, KAULAH IBUKU
Dalam rahimmu aku dibentuk
Dalam dadamu aku hidup
Dalam pelukanmu aku aman
Dalam naunganmu aku terlindung
Oh...komunitasku
Dikala beban hidup terasa berat di
pundak
Kaupun hadir sebagai Simon-Simon yang
lain
Dikala persaudaraan tak menjamin
kebahagiaan
Kaupun hadir sebagai roh yang
mempererat persatuan
Dikala dunia menawarkan berbagai
bentuk kenikmatan
Kaupun hadir sebagai penjamin segala
Dikala penyakit datang menghantam
jiwa
Kaupun datang sebagai dokter
penyembuh ajaib.
Oh...komunitasku
Didalam dikau aku hidup
Didalam dikau aku berkembang
Didalam dikau aku menjadi dewasa
Didalam dikau aku bertahan
Tuk setia dalam panggilan
Menjadi rasul Wajah Kudus tercinta
Sahabat
SAHABAT
Sahabat......
Aku tak akan setia
jika tanpa kamu
Aku tak akan bertahan
jika tanpa kamu
Aku tak akan
berkembang jika tanpa kamu
Aku tak akan hidup
bahagia jika tanpa kamu.
Sahabat.....
Kutahu kita adalan
satu
Satu dalam pencarian
Sang Ilahi
Satu dalam penemuan
pribadi sejati
Satu dalam perjuangan
menggapai impian
Satu dalam membangun
kredibilitas diri
Sahabat....
Aku butuh engkau
Untuk mengungkapkan
suka-duka hidupku
Untuk mendengarkan rinitihan
dan tangisan jiwa
Untuk membagikan
rahmat-rahmat kasih Allah
Untuk mengembalikan
jiwa yang merana
Sahabat...
Aku butuh engkau
Untuk sama-sama melangkah
Menuju pelukan mesra Sang Wajah
tercinta.
Sr. Emiliana Sepe, CSV
Kusembah
HATI YANG MENYEMBAH
Kudatang Tuhan Dengan Hati Yang Tulus
Hanya Karena Rasa cintaku KepadaMu
Yang Menarik Aku Untuk Dekat PadaMu
Oh WajahMu Yang Kudus
Hanya Hati Yang Menyembah
Membuatku Melekat PadaMu
Karena Kau adalah Kekasih Hatiku
Engkaulah Segalanya Bagiku
Yang Ku Puja Selama-Lamanya
Ku Mau MenyembahMu
Seumur Hidupku ini
Sr.Edeltridis Ye,CSV
Langganan:
Postingan (Atom)

