Translate

Jumat, 19 April 2013

Wajah-Mu kucari

Berziarah mencari
Wajah Yesus
Hatiku mengikuti firman-Mu: Carilah
wajah-Ku maka wajah-Mu kucari, ya
Tuhan. (Sal 27,8)

Wajah Yesus mengingatkan kita bahwa kita di panggil Tuhan dan hasrat kita sebagai orang beriman adalah melihatNya, serta memadukan pandangan kita dengan Tuhan yang bangkit, sebagai balasan cinta. Kita diundang untuk memandang pada ikon/gambar tersebut
Kepada kaum religius, Benediktus XVI mengatakan demikian: "Kamu semua telah dihadirkan sebagai simbol peziarahan, yang dalam Tahun Iman mengungkapkan lebih yakin pengakuanmu akan Gereja, untuk mengakui imanmu dan memperbaharui penyerahan dirimu kepada Allah. Pada tempat pertama saya mengajak kamu untuk memperdalami iman yang menerangi panggilanmu. Saya menasihatkanmu untuk mengenangkan kembali ziarah batin, "sebagai cinta pertama" dimana Tuhan Yesus Kristus telah menghangatkan hatimu, bukan sebatas nostalgia, tetapi untuk membakar semangatmu. Karena itu penting tinga bersamaNya dalam keheningan sambil menyembahNya, dan dengan demikian ada kehendak dan kebahagiaan untuk berbagi hidup, pilihan, ketaatan iman, sukacita kemiskinan, cinta yang mendasar....
Berawal dari cinta pertama kamu mampu meninggalkan segalanya untuk tingal bersama-Nya dan menjadi seperti Dia yakni melayani Allah dan sesama (lih. Apost. VC 1) ... Akhirnya, saya mengundang kamu untuk memperbaharui imanmu yang menghantarmu menjadi seorang peziarah iman menuju masa depan. Pada hakekatnya hidup bakti adalah ziarah dalam Roh, dalam mencari satu Wajah yang  kelihatan dan tidak kelihatan: "Tuhan, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam"(Mzm 26,8). Hendaklah ini menjadi suatu kerinduan dalam hatimu, yang menjadi persyaratan dasar dan mengarahkan perjalananmu, baik dalam kehidupan biasa setiap hari maupun disaat hendak mengambil keputusan penting. "(Benediktus XVI, 2013/02/02)

Senin, 01 April 2013

Berlarilah !



Mereka berlari bersama 
Dalam hidup ada satu pacuan
yang tidak mungkin hilang begitu saja
karena ia mendekatkan dirimu pada arti dari segala sesuatu.
Bukanlah satu pacuan tunggal, karena bersama denganmu ada
juga orang lain yang berlari dengan maksud dan tujuan yang
sama dengan dirimu.
Hendaknya berlari bersama supaya kamu tidak merasa sendirian.
Rasakanlah bahwa berlari bersama menyatukan wajah orang -orang yang tidak takut mencari, wajah orang - orang yang
mendamba. Wajah - wajah yang berpacu mungkin terlaluskeptis, tapi mereka membiarkan diri untuk ditarik olehkesejukan dan kerinduan dari orang - orang yang akan
dijumpai, yang mengundang mereka untuk tidak terlalu mencintai "istirahat"
Di pagi Paskah itu, semua berlari;
berlari untuk mencari tanda - tanda kehidupan,
untuk menemukan tempat di mana Sang Hidup berdiam,
karena inilah hidup  .....
Maka marilah kita berlari bersama untuk menjumpai Yesus,
menjumpai Misteri Paskah-Nya, yang adalah pusat iman kita.
Orang yang berlari bersama akan memperhatikan langkah kaki
sesamanya, belajar untuk mengenal langkah kaki sesamanya,
bersukacita bersama siapa saja yang berada di sekelilingnya.
Orang yang berlari bersama akan dapat membagikan
kesusahan serta sukacita karena telah menemukan Sang Hidup Yang Benar.

Puisi batu



PUISI BATU

Mengapa hatiku telah berubah jadi batu
Mengapa telingaku juga berubah jadi batu
Mengapa mataku pun telah berubah jadi batu
Mengapa rasaku membatu
Tanpa ada sedikit haru
Untuk waktu
Yang lama ditunggu
Luka….
Berdarah….
Menoreh jiwa
Mengoyak luka
Dalam amarah
Menerbangkan semua rasa
Entah kemana
Tuhan..,
Apakah ini salah…?  (Mince Hamzah)

Minggu, 31 Maret 2013

Selamat Hari Raya Paska



Kristus telah wafat dan bangkit hanya satu kali dan untuk semua orang tetapi kuasa kebangkitan – inilah bagian  dari perbudakan kejahatan - harus dilaksanakan pada setiap saat di ruang konkret kehidupan kita, setiap hari. Berapa banyak gurun pasir manusia masih  harus lewati. Terutama gurun pasir yang ada di dalam dirinya ketika ia tidak memiliki kasih Allah untuk  sesama. Namun rahmat Allah dapat menghihas dengan bunga lahanyang  kering dapat memulihkan menghidupkan tulang kering. "(Papa Francesco)


Kamis, 14 Februari 2013

Suster Wajah Kudus - Kupang




 KUPANG    

 PAUD MARIA PIA


Maria Pia adalah sebuah nama yang harum dan menawan  nama  dari seorang ibu yang melahirkan cinta dan perhatian yang tulus bagi anak- anak pencinta Sang Wajah Kudus Yesus. Maria Pia sungguh sangat  dikenang dalam seluruh kehidupan anak- anaknya karena kesaksian kasihnya yang rela memberi dari kesederhanaan dan kekurangannya. Ia memberikan sampai titik penghabisan. Karena itu nama Maria Pia perlu di abadikan dalam kehidupan para penerusnya agar nama itu tidak lenyap ditelan kesibukan dan hiruk pikuknya dunia. Selain itu juga agar nama indah Maria Pia menjadi sebuah nama yang tak  terhapuskan  dari setiap hati yang mencintai dan mengenal kehidupannya karena nama itu telah diukir indah dan dimeteraikan  dengan tinta EMAS  dalam setiap hati dan nubari.  Kemarin, hari ini dan besok nama itu akan semakin indah karena nama itu menjadi nama sebuah LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) di komunitas CSV Kupang yang sudah mulai berjalan dari tanggal  02  Oktober 2012 dengan jumlah murid sebanyak 14 orang  yang terdiri dari 10 anak  laki –laki dan 4 anak perempuan.  anak – anak  tersebut  dari keluarga TNI dan POLRI.  PAUD Maria Pia melaksanakan kegiatan dari hari senin sampai hari jumat.  Hal utama yang di perhatikan dan diutamakan dalam seluruh kegiatan dari  lembaga pendidikan ini selain dari  segi kognitif dan motorik  tetapi  juga dari segi spirituil untuk  mencari dan menemukan yang hilang serta rela berbagi dalam kesederhanaan  tanpa  memandang  wajah dan latar  belakang. Mohon doa dan dukungan  untuk PAUD MARIA PIA agar berkembang sesuai rencana dan kehendak Allah yang Kuasa.   Sr. Femy,CSV                                              
                

Sabtu, 26 Januari 2013

Mengikrarkan kaul-kaul suci



Mengikrarkan kaul-kaul suci dalam Kongregasi Suster- Suster Wajah Kudus  untuk mencari , menemukan
dan melayani Tuhan dalam diri sesama.
Menyerahkan diri seutuhnya bagi Tuhan yang lebih dahulu telah mengasihi
manusia, mencarinya untuk menyelamatkannya.
Membiarkan diri dibentuk  oleh Sang Pencipta agar semakin hari semakin
menjadi serupa.
Profisiat  sr. Emiliana