Translate

Jumat, 21 Juni 2013

Beata Maria Pia Mastena


 

 " Ambillah bagian dari sesama"

Semoga cinta bersinar dan menjadi pusat setiap gerakan semangat, hati, setiap tindakan. Janganlah kita  lupa ... jangan ...  Menderita namun jangan buat orang lain menderita

 

BEATA MARIA PIA, SEORANG WANITA YANG DALAM IMANNYA





 “Di dalam keluarga telah ditanamkan dalam diri Hamba Allah suatu iman yang kuat, yaitu cinta yang besar akan Ekaristi. Hampir setiap hari ia menghadiri Misa Kudus bersama dengan ibunya, dan pada usia 12 tahun dia telah menjadi “ rasul iman “, dengan mengajar katekismus di paroki serta mengkhawatirkan mereka yang jauh dari dari hidup kristiani. Ketika bertugas di Miane sebagai suster Misericordia, dia melatih iman yang benar - benar kokoh kuat, sambil terus berkarya, (…), mengunjungi orang sakit serta meneguhkan iman mereka. (…) Hamba Allah memandang setiap orang serta setiap pengalaman yang terjadi dengan mata iman, termasuk mereka yang membuatnya menderita. Kepada para putri-putrinya, ia juga mengajarkan hal yang sama.
Saya ingat ketika salah satu dari kami berhasil membawa kembali kepada Allah seseorang yang tersesat jalannya, sukacita Madre sangat besar. Dia berkata: “Hari ini engkau mendapatkan upahmu; demi menyelamatkan jiwa – jiwa perlu pengorbanan“, dan ia berkata lagi: “jiwa yang beriman adalah jiwa yang selalu tenang “. Hal ini ditunjukkan dalam seluruh perbuatannya. Katanya: “Yesus adalah kereta bersenjataku. Bersembunyi di dalam Dia, aku tidak akan takut “.
  ( …) Betapa besar imannya dalam menghadapi berbagai kesulitan besar pada awal pendirian Kongregasi, terutama sekembalinya dari Kongregasi Suci di Roma. Bapa Uskup mengatakan bahwa sudah tidak jalan lagi. Namun Hamba Allah mengulang kembali kepada Uskup apa yang dikatakan oleh Yesus: “Jika kalian mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kalian akan dapat memindahkan gunung.“ Hal ini jelas dipahami bagaimana dia akan dapat memindahkan gunung–gunung kesulitan yang menghalangi misi yang dipercayakan Allah kepadanya “1
“Saya berpendapat bahwa, …. baginya iman adalah “jubah“  yang membuatnya menikmati kebenaran yang diyakini, serta menerima kehendaki Allah serta ajaran–ajaran ilahi-Nya setiap saat. Ketika berbicara tentang Allah, saya melihat seolah-olah dia sedang mengkontemplasikan-Nya.”2
“Dengan kami, dia menunjukkan imannya yang luar biasa. Sering dia berkata: “Saya harus meminta satu rahmat khusus dan saya harus memperolehnya dari Tuhan.“ Kami semua diajak untuk memohon rahmat itu; beliau sangat yakin akan hal ini, katanya: “Besok saya akan memperoleh rahmat itu”, kepada siapa yang ragu dia berkata: “Bagaimana? Berarti engkau tidak beriman!” … Yesus telah bersabda: “Berdoalah, mintalah, ketuklah, dan …., ia telah menyampaikan keyakinan ini juga kepada kami“3 …. Madre berdoa dengan suatu keyakinan penuh bahwa hanya doalah yang mampu mengubahnya menjadi seorang wanita yang beriman teguh dan tak tergoyahkan”4

1 Sr. Fernanda Marabello, Positio, 1 teks hal. 17.

2 Sr. Celinia Dalla Torre, Positio, hal. 71.

3 Sr. Bernardetta Mazzon, Positio, hal 161.

4 Sr. Arcadia Nardin, Positio, hal. 48.

"(...) Dia mempunyai iman yang sangat hidup, ... didasarkan oleh pengharapan dan cinta kasih serta berpedoman pada sabda Allah ... "5. Injil dibaca dan dikomentarinya sendiri. Di antara tulisan-tulisannya saya tertarik akan salah satu komentarnya ini: "Yesus adalah sabda Allah ... ketika kita mendengarkan sabda Allah, kita menghampiri Yesus yang adalah Sabda itu sendiri"6. "Dia juga menunjukkan iman yang nyata dalam sakramen - sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Pengakuan Dosa"7. "Dalam Ekaristi, Madre telah menemukan Yesus, Sang Hidup yang Benar yang harus diwartakan kepada sesama dan dunia"8. "Imannya akan hidup kekal sangat hidup...., akan adanya perantaraan Maria, para kudus serta jiwa - jiwa di api penyucian .... Saya sangat mengagumi iman dari Hamba Allah yang dinyatakannya dalam karisma kongregasi serta yang dibawanya untuk mencari Wajah Allah atau seperti yang sering diungkapkannya sebagai " Wajah Yesus yang manis"9. " Dengan penuh keyakinan saya mengatakan bahwa Kongregasi Wajah Kudus telah lahir berkat imannya. Bahkan saya akan menambahkan lagi bahwa karisma yang sama bukan saja suatu rangkuman hidupnya yang penuh iman. Saya hanya dapat memahaminya jika karisma ini saya lihat dalam terang bahwa dengan " menyebarkan, menyilih, dan memulihkan Wajah Yesus yang manis dalam jiwa - jiwa " saya akan menemukan kunci jawabannya hanya dalam iman."10

5 Sr. Constantina Ravazzolo, Positio, hal. 161.

6 Sr. Carmelinda Corazza, Positio, hal. 245.

7 Sr. Pierina Carrer, Positio, hal. 103.

8 Sr. Arcadia Nardin, Positio, hal. 48.

"Imannya akan Gereja sangat hidup; akan Bapa Suci, yang seringkali disebutnya sebagai "Kristus yang manis di bumi", serta akan para Uskup "...Di tahun terakhir hidupnya, imannya seolah-olah menjadi nyata terlihat. Sering dia berbicara tentang kematian yang semakin mendekat, tentang Yesus yang akan segera memanggilnya tanpa memberitahukannya terlebih dahulu; ia merasa sudah siap untuk meninggalkan bumi ini, merindukan untuk bertemu dan mengkontemplasikan Wajah Yesus yang dibaktikan selama hidupnya. Saya ingat tanda salib besar, bukti pernyataan iman akan Tritunggal Mahakudus yang sering dibuat oleh Hamba Allah ... "11
" Madre Mastena adalah seorang wanita yang mempunyai iman yang tidak tergoyahkan, mengatasi setiap kesulitan dengan jiwa yang tenang, pantang menyerah, serta mempunyai pandangan ke depan untuk menjadi semakin lebih baik."12 Diceritakan bahwa di San Fior kerasulannya berkembang dalam iman, sehingga tidak lama kemudian hidup kristiani mekar  lagi di tempat itu.

9 Sr. Cecilia Griggio, Positio, hal. 262.

10 Sr. Angelina Furlan, Positio, hal. 129..

11 Sr. Rosa Narduzzo, Positio, hal. 198.

12 don Paolo Meneghello, Positio, hal. 354.

13 Sr. Clorinda Zambon, Positio, hal. 280.


Maria Pia Mastena ..Tulisan...






"Semoga cinta bersinar dan menjadi pusat setiap gerakan semangat, hati, tindakan. Janganlah kita  lupa ... jangan ...  Menderita namun jangan buat orang lain menderita".


"Marilah  kita baik hati  kepada mereka yang akan menguji kita dan injak kita seturut  Yesus". (Catatan 7, hal. 28)


 Damai dengan Allah diperoleh karena kepolosan hidup dengan sesama melalui cinta kasih, dengan diri kita sendiri melawan cinta-diri ".  (Catatan 7, hal. 26) 

Jumat, 07 Juni 2013

Aku percaya, ya TUHAN !




Ya Tuhan, aku percaya pada-Mu. aku ingin percaya kepada-Mu.
Buatlah agar imanku penuh, tidak tinggal diam,
 dan semoga ia masuk ke dalam pikiranku agar aku dapat membedakan hal yang ilahi dan yang insani.
Ya Tuhan, buatlah agar imanku bebas lepas dari kelekatan-kelekatan pribadiku,
 menerima penolakan-penolakan serta mengatakan dengan tegas puncak kepribadianku;
 aku percaya kepada-Mu, Tuhan.
Ya Tuhan, buatlah agar imanku jelas, yakin akan keselarasan antara bukti yang nyata dan kesaksian batin oleh karena Roh Kudus, yakin akan cahaya-Nya yang menenangkan,
 pernyataan-Nya yang mendamaikan, kesatuan yang memberi rasa tenang.
Ya Tuhan, buatlah agar imanku kokoh kuat, tidak takut akan kesulitan yang menghadang,  
 penuh pengalaman hidup yang lapar akan terang, tidak takut akan kebencian orang-orang yang menolak dan menyangkalnya.
Buatlah agar imanku mendamaikan serta menenangkan jiwaku, memampukan aku untuk menyembah Allah dan membaktikan diri bersama manusia, untuk memancarkan kebahagiaan batin yang menjadi miliknya, baik dalam percakapan suci maupun yang profan.
Ya Tuhan, buatlah agar imanku menjadi pelaksana dan pewarta kebenaran dengan penuh kasih agar aku dapat menikmati persahabatan dengan Engkau dalam karya, dalam penderitaan, dalam penantian akan hari terakhir, suatu kesaksian yang berlanjut, suatu sumber hidup yang penuh pengharapan.
Ya Tuhan, buatlah agar imanku sederhana, bukan berdasar atas pikiran dan perasaanku tetapi atas dasar pengalaman akan Roh Kudus, serta tidak mempunyai jaminan yang lebih tinggi dari tradisi serta tugas Gereja sebagai pengajar.  (  Paulus VI )

Beata M.Pia Mastena - Doa menjelang pestanya



  MENGALAMI KEKOSONGAN HIDUP

Pemimpin: Kitab Suci  menceritakan kisah seorang janda di Sarfat Sidon, yang percaya dan menerima firman Allah melalui nabi Elia.

Bacaan:  1 Raja-raja 17, 1-16  

Beberapa refleksi singkat dari teks Kitab Suci oleh Pier Luigi Ricci.

Lektor:  "…tepung dalam tempayan tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak berkurang" seperti firman Tuhan yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia. Mungkin ada seribu alasan untuk dibahas ataupun ditolak karena permintaan nabi Elia itu tidak beralasan. Saya selalu merasa terharu dengan akhir kisah itu karena Allah sendiri memberi imbalan atas kesediaan janda itu, apabila setiap yang dimiliki dibagi-bagikan dengan orang lain bukan berarti akan berkurang melainkan akan dilipat gandakan. Tetapi bagian ini merupakan hal yang paling mudah bagi kita yaitu "sesudahnya".
Sebaliknya saya selalu bingung dengan sesuatu yang terjadi "sebelumnya", tindakan tegas yang dilakukan tanpa bisa dicegah. Disanalah terlihat kehebatan perempuan itu. Kitab Suci menceritakannya demikian: "lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia". Ini adalah iman. Merupakan sesuatu yang lebih mengharukan dari sesudahnya. Anda sering merasa hampa tanpa kepastian dan perlindungan.  Hidup ini sering menawarkan kita kesempatan untuk mengalami iman. Ada saat-saat dimana anda berada di persimpangan jalan: anda bisa memutuskan untuk memperoleh keselamatan dan perlindungan atau memilih untuk menjatuhkan diri tanpa perlindungan dan penjelasan. Dan itu adalah saat yang menentukan karena semuanya diputuskan "sebelumnya". Anda harus mencoba apabila belum pernah melakukannya. Jangan meminta saya untuk menjelaskan bagaimana caranya, kalau anda mau silakan belajar dari janda di Sarepta.


  •  Demikian juga Sr. Passitea ia pernah mengalami "kekosongan hidup" tetapi ia tetap percaya kepada Allah dengan menerima Uskup Eugenio Beccegato dimana dalam keadaan sesulit apapun tetap percaya bahwa Allah sendirilah yang memberikan misi khusus kepada Beata Mastena. Imanlah yang menjadi pegangan hidup Madre Mastena ketika mengalami kesulitan dan kegelapan hidup. Seperti yang terjadi dengan janda di Sarepta dimana tepung dan minyak tidak akan berkurang, demikian juga dengan benih yang disemaikan dalam kerapuhan hidup Madre, berkat imannya yang kuat benih itu tidak layu melainkan bertumbuh menjadi pohon yang menghasilkan buah.



dari buku " Seorang ibu yang kuat " oleh Luigi Scano

“ … demikianlah apa yang terjadi di Miane pada tahun 1927. Pada tembok depan rumah suster-suster, superior sr. Passitea menulis kalimat ini "Rumah damai" dan selama 19 tahun beliau terus mengawasinya dengan penuh kasih, sehingga tidak ada seorangpun mengganggunya. Sesuatu telah terjadi tanpa perkiraan, hari itu

taman kanak-kanak di Miane. Seperti "kunjungan kanonik" yang berlangsung sampai tanggal 15 April, hari Jumad Agung. Dan pagi itu (atas perintah): " Semua di atas kereta kuda". Begitulah yang terjadi. Sang kusir sedang menunggu( untuk membawa sr. Mastena dan dua orang yang mengunjunginya ke Verona). Ketika kereta kuda tiba di Pieve di Soligo, sr. Mastena mengalami krisis yang kuat dan ingin kembali ke Miane untuk meminta nasihat dari pastor paroki, yang tahu dengan baik apa yang dilakukan Mastena, sebagai pastor paroki yang baik don Ernesto Lombardi meminta kusir untuk menghantar sr.Passitea ke Vittorio Veneto untuk menemui Uskup Eugenio Beccegato yang telah mengenalnya dengan baik selama 10 tahun, dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Dan malam itu, Jumad agung 15 April 1927, sr. Passitea meninggalkan untuk selamanya Kongregasi suster-suster yang Berbelaskasih di Verona untuk masuk dalam Trapis Cistercensi di S. Giacomo di Veglia. Setelah 9 bulan tepatnya 17 November 1927, Mgr. Beccegato menyarankan beliau untuk keluar dari Trapis dan kembali ke Miane untuk memulai tahun ajaran baru… dan Allah sendiri yang memperhatikannya… Allah telah menabur benih dalam hati sr. Mastena sejak tahun 1911, dan benih itu tidak mati tetapi di bawah bimbingan dan perlindungan uskup Beccegato menjadi Kongregasi suster-suster Wajah Kudus.


       BESARLAH IMANMU

Injil Matius 15,21-28


Buah-buah pikiran yang diambil dari ulasan G. V


Lektor: Pada awalnya perempuan Kanaan itu memperoleh jawaban yang sangat keras dan menantang: "Aku diutusnya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel; tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing". Perempuan itupun mengerti dan jawabannya adalah sebuah pernyataan iman: "Anjing-anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya". Seolah-olah ia mengatakan: "Engkau adalah roti yang disediakan bagi anak-anak tuan tetapi juga merupakan makanan bagi anjing-anjing yang memungut remah-remah yang jatuh dari meja". Perempuan itu memahaminya dan jawaban yang diberikannya merupakan sebuah penegasan: "Tidak ada lagi anak-anak tuan dan tidak beriman, engkau adalah santapan untuk satu dan yang lainnya"… Ini adalah iman yang menyembuhkan anaknya yang "menderita kerasukan setan"… "Hai ibu besarlah imanmu". Baginya iman adalah menerima apa yang ia pahami, baginya iman adalah membiarkan diri untuk bersatu dengan Kristus. Dengan iman yang besar perempuan Kanaan itu percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya pusat dari semua keyakinan dan barangsiapa percaya kepada-Nya akan memperoleh kehidupan… Seperti matahari, satu-satunya yang bisa dilihat oleh miliaran mata, demikian juga Kristus hadir dan dirasakan oleh miliaran hati. Kristus adalah nafas kehidupan, pengajarannya yang ilahi dapat ditemukan kapan dan dimana saja.

Mastena, ia memahami dan menjadikan hidupnya suatu pengungkapan iman, ia mengerti… dan jawabannya adalah "…hidup yang mengikuti irama penderitaan, doa dan cinta kasih. Kita juga ingin tahu apa yang terjadi dalam pertemuan antara Allah sendiri dan Madre Mastena pada malam 28 Juni 1951. Jam 11 malam Madre Mastena beranjak ke kamar dan meminta segelas air. Setelah ia membuat tanda salib dan mendekatkan gelas ke bibir… ia tidak mempunyai kekuatan lagi… kemudian ia jatuh… Madre Mastena pun meninggal dunia". (dari buku Seorang ibu yang kuat)