Translate

Sabtu, 23 Agustus 2014

Spiritualitas Suster Wajah Kudus ( 1 )



Renungan
SPIRITUALITAS 
 SUSTER WAJAH KUDUS
Mt 26: 17-25




"  Mekarlah sebagai bunga yang indah... "


Dalam sesi ini pusat perhatian kita diarahkan pada hal yang sangat pokok dan amat mendasari seluruh eksistensi kita sebagai kongregasi aktif. Untuk itu terlebih dahulu kita mendengar salah satu butir Pengakuan St. Agustinus yang diringkas dan disadur oleh Sipke van der Land tentang SIAPAKAH ALLAH ITU? (hal 13)
Siapakah Allah itu?
Allah adalah ALLAH. Dialah Allah kami.
Engkaulah yang mahatinggi, Yang Mahabaik.
Engkaulah Yang Mahakuasa, Yang Penyayang dan adil.
Engkaulah Yang Tersembunyi,
namun hadir di mana-mana.
Engkaulah Yang Indah dan kuat.
Engkaulah Yang Tetap-kokoh,
namun tak terjangkau.
Engkaulah Yang Tak-berubah,
namun Engkaulah yang mengubah segala sesuatu.
Engkaulah yang senantiasa sibuk,
namun Engkau mahatenang.
Engkau menyatukan dan memelihara,
Engkau memenuhi dan melindungi,
Engkau mencipta dan mengasuh
Engkau menyempurnakan dan mencari,
meskipun Engkau tidak berkekurangan sesuatu.

Engkau mencintai kami,
tetapi bukan karena dorongan nafsu.
Engkau berkarya,
tetapi bukan dengan susah payah.
Engkau dapat marah
tetapi tetap bersabar.

Engkau dapat merasa kecewa,
tetapi tidak mengalami kerugian.
Engkau mengubah tindakan-tindakan-Mu,
tetapi tidak mengubah rencana-Mu.
Engkau menemukan kembali,
meskipun tak pernah Engkau kehilangan sesuatu.

Segala sesuatu yang kami miliki,
berasal dari pada-Mu.
Engkau membayar hutang-hutang kami,
meskipun Engkau sendiri tidak berhutang kepada seseorang.
Engkau menghapus kesalahan-kesalahan
tanpa mengalami sendiri kerugian.

Allahku, hidupku
kebanggaanku yang mahasuci,
dengan kata-kata ini aku belum mengatakan apa-apa.
Apa daya kata-kata saja
jika orang berbicara tentang diri-Mu?
Bagaimanapun juga aku tidak dapat
membungkam tentang Dikau!

Persekutuan Hidup dan Inti Spiritualitas
Ada satu prinsip umum yang berlaku di mana-mana: kehidupan spiritualitas yang mantap akan senantiasa menyanggupkan kita untuk bertahan di dalam hidup membiara di satu pihak, dan pada pihak lain hal itu akan senantiasa memberi perspektif baru kepada kita untuk tetap bertahan dalam persekutuan hidup, baik di dalam komunitas, maupun di dalam kongregasi/tarekat dan kehidupan karya di tengah masyarakat luas. Dari hakekatnya, spiritualitas yang sama akan selalu meresapi seluruh pribadi dan setiap karya, apabila kita selalu berdoa [dengan berdoa Allah hadir dalam jiwa kita], apabila kita selalu mencari hening dan sunyi [hening dan sunyi adalah jalan emas untuk memelihara hidup rohani], apabila kita selalu aktif untuk mencari [pencarian yang bermakna adalah berusaha menemukan akar kehidupan, akar kekuatan pribadi, akar kekuatan komunitas, dan akar kekuatan masyarakat]. Untuk itu, kehidupan spiritualitas ibarat sumber rezeki yang senantiasa meneguhkan hati dalam ziarah kehidupan rohani.
Umumnya tarekat-terakat religious selalu menekankan bahwa kharisma pendiri senantiasa memberi inspirasi kepada para pengikutnya sedemikan rupa, oleh karena mereka telah dipanggil dalam hidup kongregasi, dan dengan cara yang sama mereka haruslah berusaha membina dan mengungkapkan sikap Hamba Yahweh dalam hidup setiap hari. Dalam menjawab tantangan jaman, dengan kegembiraan dan kesederhanaan, setiap biarawan/wati berusaha mencintai Tuhan dan mengabdi sesama, terutama mereka yang mengalami kesesakan hidup. Dengan keyakinan teguh, setiap biarawan/wati berjuang secara rohani untuk memandang Kristus sang Tersalib, yang secara istimewa telah memanggil menuju suatu karya dan misi khusus, yakni dengan perantaraan dan melalui kita – sebagai biarawan/wati - kita rela berbagi harta rohani dan jasmani dengan sesama. Tugas luhur inilah yang melekat dalam pribadi setiap biawaran/wati, yang juga nanti memberi inspirasi bagi segala penghayatan hidup kaul-kaul kebiaraan sesuai kata hati setiap kongregasi.  
Hal paling dasariah yang hendaknya direfleksi dengan matang dari ungkapan ‘spiritualitas’ adalah persekutuan hidup yakni kita semua dipanggil untuk membina dan membangun serta mengungkapkan secara bersama-sama persekutuan yang khas dan istimewa dengan Tuhan Pencipta langit dan bumi. Persekutuan dengan Tuhan telah nampak dalam perilaku Tuhan Yesus sebagai Hamba Yahweh, dimana terlihat secara spiritual ‘sosok seorang pribadi unggul’ yang tiada henti mengikatkan diri pada kehendak Tuhan sebagai sumber satu-satunya kehidupan di muka bumi! Di sini terungkap kualifikasi hidup dari ‘mereka yang dipanggil’ yakni nasehat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Fil 2: 2b-3) “….hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia”.
Satu kasih lebih tertuju pada kondisi dan iklim kehidupan, dimana persaudaraan sejati selalu tumbuh dan berkembang dalam hati dan sanubari manusia. Satu jiwa berkaitan dengan semangat karya (tulus, ikhlas dan saling percaya-mempercayai) yang selalu harus dibangun di dalam komunitas dan tarekat: bahwa rekan-rekan sekomunitas dapat melaksanakan sesuatu yang baik dan bermakna. Satu tujuan berhubungan dengan arah kerja atau setiap prospektus kegiatan yang kita lakukan, semuanya harus demi dan atas nama kepentingan sesama (ini adalah mahkota atau cita-cita dari karya dan hidup dalam kongregasi).
Mahkota pelayanan dan hidup bhakti yang dikejar adalah actio sebagai Hamba Yahweh, yang terjemahannya dilihat dari konteks dimana kita hidup dan berkarya. Bahasa Hamba Yahweh harus diterjemahkan searif mungkin dalam karya pelayanan dan hidup bhakti yang dipersembahkan kepada Tuhan, baik yang tersembunyi di dalam hati dan sanubari, maupun yang terungkap dalam berbagai karya di dalam hidup berkomunitas dan ungkapan respek bagi kehidupan kongregasi. Sangat mustahil apabila kita menyusun rencana untuk tampil dengan perkasa sebagai Hamba Yahweh, lalu pada sisi berbeda kita masih menutup diri untuk tidak melakukan sesuatu yang bermakna dan berarti bagi komunitas dan kepentingan kongregasi.
Sekarang kita lebih menukik untuk merefleksi Kharisma Tarekat Para Suster Wajah Kudus, yang dapat dilihat dalam Buku Peraturan Hidup no. 2. Saya akan mengutipnya secara lengkap:

“ MENYEBARKAN, MENYILIH DAN MEMULIHKAN GAMBARAN YESUS YANG MANIS DI DALAM JIWA-JIWA” adalah charisma dari Pendiri kita. Roh Kudus telah menyatakan kepadanya kekayaan tak terbatas dari cinta penuh belaskasih Bapak di dalam Wajah Kristus terhina, sembari menuntunnya untuk menemukan kekuatan inspiratif dari Kongregasi dimana kita sendiri merasa terpanggil”.
Hemat saya, inilah dasar dari spiritualitas penyilihan, yang justru menjadi ujung tombak kehidupan dan karya nyata dari para Suster Wajah Kudus. Dasar spiritualitas penyilihan ada pada hasrat hati alamiah dari setiap manusia untuk senantiasa mencari Tuhan Pencipta. Tuhan akan mudah dicari oleh karena dari kekal Allah yang sama selalu mencari manusia di setiap persimpangan kehidupan di muka bumi. Dalam kisah-kisah Perjanjian Lama dan Baru, Allah selalu merindukan manusia, agar semua manusia dapat berjumpa denganNya. 

Dalam buku Spiritualitas Penyilihan (hal 22) ditulis:
“…Suasana saling mencari ini, berkaitan langsung dengan kerinduan akan sukacita yang telah ditanamkan Allah dalam hati manusia, sejak manusia itu diciptakanNya. Manusia senantiasa mencari Allah, namun ia dapat mencariNya karena dari kekal Allah mencari manusia, sama seperti dikatakan dalam Kidung Agung 2:13-14. Allah merindukan kita, agar kita ingin berjumpa denganNya dari muka ke muka.
…. Maka spiritualitas penyilihan mempunyai dasarnya pada sejarah keselamatan; namun dari abad ke abad spiritualitas ini mulai memudar dan makin lama, makin dikosongkan dari inti teologisnya, sehingga menjadi hanya satu tindakan lahiriah yang kurang jelas. Tetapi dengan Konsili Vatikan II, berkat dorongan yang telah diberi kepada Umat Allah untuk mendalami Kitab Suci dan teologi, maka penyilihan ini juga telah hidup kembali, sesuai dengan Kehendak Allah” (hal 22-23).
Dasar biblis yang dapat dipetik dari kutipan di atas adalah pemahaman yang intensif dan mendalam mengenai arti dan makna dasar kata penyilihan, yang merujuk pada usaha memperbaiki sesuatu yang rusak, agar ia tetap layak digunakan, sehingga tidak hilang dari dunia ini. Dengan demikian cakupan kata ini tertuju juga pada upaya yang terus-menerus untuk mencapai lagi atau dapat disejajarkan dengan ungkapan ‘menebus’ dan ‘membayar tebusan’ agar seseorang dapat dibebaskan. Dimensi rohani yang dapat disari dari kata penyilihan, selalu berkisar sekitar sesuatu yang berasal dari Allah secara khusus dalam diri Tuhan Yesus Kristus.  Dalam dan dengan perantaraan Kristus, Tuhan menciptakan kembali kesatuan ilahi antara manusia-alam dan Tuhan Pencipta langit dan bumi yang sebelumnya telah dirusakkan oleh kejahatan yang berada di dalam dunia ini. Manusia dalam persekutuan dengan kekuatan yang Ilahi dari Tuhan sendiri mengambil bagian untuk memperbaiki segala yang telah rusak itu melalui karya amal dan perbuatan cinta kasih yang tulus. Manusia diciptakan menjadi rekan kerja Allah untuk memperbaharui wajah dunia, agar tercipta kembali persekutuan yang mesrah antara manusia dan seluruh alam-raya dengan persekutuan Allah Tritunggal: Bapak, Putera dan Roh Kudus.
Dalam wacana dan refleksi Madre Pendiri, Madre Maria Pia Mastena, ungkapan penyilihan ini tidak semata pilihan kata-kata tertentu yang mungkin memiliki kekuatan seni dan luapan bahasa secara kasat mata saja, melainkan berakar pada meditasi akan suatu keterlibatan yang mendalam, yang justru berakar pada kehidupan Tuhan Yesus sendiri. Dalam buku Peraturan Hidup, tertulis, “Pengalaman akan kasih dalam kontemplasi tentang Wajah Kudus mengisyaratkan pentingnya penyilihan yang menebus” (No. 5). Makna kata-kata ini ada pada sebuah aliran kekuatan yang turun ke atas manusia terpanggil untuk terlibat, justru terbit dari sebuah usaha masuk lebih dalam pada realitas kehidupan Tuhan Yesus sendiri.
Demikian antara lain bunyi lanjutan dari buku Peraturan Hidup pada nomor yang sama, “… Penyilihan itu menurut teladan Madre Pendiri, menjadikan kita serupa dengan Kristus Imam dan Korban persembahan di dalam seluruh pengungkapan hidup kita, serentak menyatukan kita dengan Misteri Paskah Kristus Tuhan” (nomor 5). Ungkapan ini memberi sebuah pemahaman yang sangat mendalam kepada kita akan kepenuhan Misteri Paskah Kristus yang menjadi titik tujuan kehidupan kita, baik secara pribadi, maupun komunitas dan kongregasi secara keseluruhan. Hidup kita dalam segala perspektif, harus selalu mengikuti pola kehidupan Kristus sebagai Imam Agung pada sisi tertentu, dan pada sisi lain haruslah sebagai Korban Persembahan.
Perspektif penyilihan dalam bingkai Kristus Imam Agung, hal itu secara gemerlapan dan agung muncul dalam Perayaan Ekaristi Kudus, karena itu benar kata Madre Pendiri untuk kita semua mengenai strategi kehidupan yang bermartabat, dimana semuanya harus diakarkan pada Perayaan Ekaristi Kudus. Di dalam perayaan Ekaristi Kudus, terlihat dengan sangat lengkap posisi Tuhan Yesus sebagai Imam Agung, yakni Dia yang memberi diriNya sendiri dan serentak memimpin dan membimbing semua orang kepada inti kehidupan yakni misteri Keselamatan yang ada dalam Tuhan sendiri! Misteri kemuliaan dan keagungan Allah yang nampak dalam Ekaristi Kudus tidak mungkin dipisahkan dari rahasia penderitaan dan wafat Tuhan, yang semuanya terkristalisasi dalam Kurban Ekaristi Kudus (bdk Peraturan Hidup, No 41).
Tidak saja merayakan dan mengenang Kristus Tuhan sebagai Imam Agung, melainkan juga harus diingat bahwa di dalam setiap perayaan Ekaristi Kudus, kita sebagai kongregasi mempersembahkan hakekat hidup kita sendiri sebagai seorang pengikut Kristus sejati: hidup kita merupakan tanda syukur (yang nyata) atas iman yang telah kita terima dari Tuhan melalui pangkuan Gereja Kristus. Syukur dalam perspektif Ekaristis kudus inilah yang pada gilirannya mendorong kita untuk melakukan semua kegiatan dalam bingkai doa, meditasi, kontemplasi, refleksi dan berbagai hal yang mendalam dan mendasar pada spiritualitas yang benar. 
Di dalam berbagai kegiatan rohani termasuk Perayaan Ekaristi Kudus, semua karya kerasulan dan kegembiraan hidup yang telah diterima dari Tuhan melalui kongregasi ini akan dapat ditumbuh-kembangkan. Persekutuan erat dengan Allah Tritunggal Mahakudus dalam perayaan Ekaristi merupakan ‘harta karun’ ilahi dan semuanya harus memberi inspirasi kepada seluruh kehidupan kongregasi (juga komunitas dan pribadi), yang pada gilirannya kita akan semakin melihat kehidupan kita sebagai sebuah hidup bhakti yang harum semerbak bagi Tuhan. Dengan demikian juga kongregasi termasuk dalam hidup dan kekudusan Gereja yang perlu terus dipupuk dan dikembangkan oleh semua orang dalam Gereja (KHK 574.2). Titik dasar dan pegangan hidup bhakti adalah menghayati nasehat-nasehat Injili yang merupakan anugerah ilahi yang dilestarikan Gereja. 
Dengan panduan nasehat-nasehat Injil yang sama setiap warga Kongregasi Wajah Kudus diresmikan menjadi seorang utusan, untuk secara lebih pasti menanggapi dalam iman undangan Tuhan sekaligus membhaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dalam beberapa nomor dari Peraturan Hidup Kongregasi anda, ditegaskan di sana bahwa kaul sebagai sarana dan medium untuk menanggapi undangan Tuhan dengan cara ‘berada lebih dekat’ pada kekuatanNya yang memberi hidup (KHK. Kan. 654; bdk Peraturan Hidup nomor 12 s/d 37). Kaul-kaul yang kita ikrarkan merupakan persembahan kita yang paling bermakna yang melengkapi karya dan hidup kita di Hadirat Allah (no. 14). Kaul-kaul menyanggupkan kita untuk tampil dengan perkasa sebagai seorang utusan Kristus. Sebagai seorang utusan, Yesus Kristus menjadi pusat hidup dan sumber kekuatan dalam menjalankan perutusan kongregasi yang diterjemahkan dalam kehidupan berkomunitas. Di dalam kekuatan Roh Kudus, Yesus menjalankan, bukan apa yang diinginkan sendiri melainkan, melaksanakan tugas perutusan Allah Tritunggal Makahudus: Bapak, Putera dan Roh Kudus. Tugas utama yang selalu dipelihara dalam bathin adalah penyerahan diri secara total kepada kepentingan Keselamatan Allah dengan mengikuti jejak Tuhan Yesus: miskin, mengosongkan diri dari segala kekayaan dan kemegahan diri agar mampu bersatu dalam Allah dan mencintaiNya dengan segenap hati.
Prototipe dan model persekutuan kita adalah Allah Tritunggal: Bapak, Putera dan Roh Kudus. Seorang teman Pastor Redemptoris (CSsR) suatu waktu di Canberra-Australia (tahun 2003) mengatakan kepadaku sebagai berikut, biara apapun dalam lingkungan Gereja Katolik, hendaknya memelihara dalam jiwa kegiatan biaranya dengan berpedoman pada refleksi berikut: (a) Allah Bapak sebagai fondasi dan Bapak komunitas religius, (b) Yesus Kristus menjadi saudara sulung anggota komunitas, dan (c) Roh Kudus menjadi jiwa komunitas. Hubungan internal di antara ketiga pribadi Allah harus meresapi pelbagai karya pastoral dan usaha pelayanan serta hidup bhakti dalam komunitas dan biara. Kasih antara Bapak, Putera dan Roh Kudus harus menjadi sumber bagi kita untuk memetik kemungkinan dan makna baru dalam usaha mengembangkan kreatifitas dan inisiatif di dalam kehidupan setiap hari.     
Mari secara lebih luas kita merenungkan peran ketiga karakter penting, sesuai catatan Kitab Suci, untuk lebih memahami peran dan fungsi Bapak, Putera dan Roh Kudus, terlebih berkenaan dengan kehidupan membiara dalam tarekat kita.
Tentang Allah Bapa: Beberapa teks Perjanjian Lama (PL) memberi ilham bagi pengertian dan penghayatan Yesus Kristus akan Allah Bapa, yang kemudian diwariskan kepada Gereja sepanjang segala masa. Antara lain beberapa teks dapat disebut:
2 Sam 7:14; 1 Taw 7:13: “Aku akan menjadi Bapaknya,” sepenggal janji Allah kepada keluarga Daud. Keluarga Daud selalu melihat Allah sebagai seorang Bapak yang setia membimbing, Bapak selalu dikaitkan dengan seorang kepala keluarga yang memiliki otoritas tertentu yang terpuji dan terpandang, seorang sesepuh keluarga yang senantiasa memberi arahan yang pasti; Bapak dimengerti sebagai seseorang yang dapat menjamin hidup manusia dalam sebuah ruang lingkup yang pasti. Kita sebagai nabi bagi zaman ini, akan dijadikan Allah sebagai ‘anak terkasih’, asal saja (1) kita serius mentaati hukum dan Perintah Allah, dan (2) kita harus sungguh-sungguh menjadi anak yang setia dan taat ‘agar’ hidup kita menjadi lebih bermartabat.
Mz 68:6: Bapak bagi anak yatim dan pelindung bagi para perawan, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus. Allah selalu tampil sebagai pelindung bagi semua orang yang berhati tulus untuk hidup semata bagi Injil dan Kerajaan Allah. Kita semua telah berikrar (mengucapkan kaul-kaul kebiaraan) untuk hidup semata bagi Injil dan Kerajaan Allah. Injil dan Kerajaan Allah adalah fundasi kehidupan kita; Injil dan Kerajaan Allah adalah kekuatan karya kita; Injil dan Kerajaan Allah adalah nafas kehidupan kita; Injil dan Kerajaan Allah merupakan pangkal karya manusia.
Yes 9:5 dan 63:16: Namanya disebut orang: “Bapak yang kekal,” dan ya Tuhan Engkau sendiri Bapak kami. (Yer 3:4). Rujukan Allah selalu tertuju pada otoritas yang memberi jaminan atas kepastian hidup (kini) dan masa depan yang benar dan baik (nanti)! Tuhan disebut sebagai Bapak oleh karena Tangan KasihNya selalu membimbing hidup manusia menjadi lebih bermakna. Allah sebagai Bapak dikenal sebagai titik tuju dari setiap perjalanan manusia pada dinding sejarah.
Dari beberapa kutipan PL ini terlihat bahwa pengertian Allah sebagai Bapak justeru menekankan “hubungan yang mesra” dan “dimensi kekeluargaan.” Gambaran mengenai Allah sebagai Bapak menjadi lebih terang dalam perbendaharaan Tuhan Yesus ketika menyebut relasi-Nya dengan Allah Bapak dalam (Perjanjian Baru (PB) sebagai berikut:
Mt 5:16: Memuliakan Bapakmu di surga; Mrk 5:48: Seperti Bapamu di surga sempurna adanya; Mt 6:6: Berdoalah kepada Bapakmu – Bapak kami di surga; Mt 7:11: yang melakukan kehendak Bapakku; Mt 10:32: Aku mengakui di depan Bapakku, dll. Dapat dibaca pada teks KS PB lainnya, yakni Mrk 11:25, 14:36; Luk 2:49, 10:22, 23:34 dan 46; Yoh 2:16, 3:35, 5:20, 4:23, 5:17 dan 37, 20:21.
Pikiran kunci dari sebutan Bapak dalam PB adalah Allah sebagai Bapak yang mengasihi Yesus dan mengasihi setiap umat manusia. Allah sebagai Bapak selalu memberi sesuatu yang baik sebagai pahala setelah manusia bertindak sebagai patut seorang anak yang baik. Dalam tarekat kita, Allah bukan sebagai penguasa, juga bukan sebagai hakim semesta, melainkan terutama sebagai “yang mencintai.” Tekanan ‘ke-bapak-an’ Allah ada pada “hakekatnya” sebagai CINTA yang merangkul dan membimbing, memimpin dan menunjuk kepada jalan, kebenaran dan kehidupan.
Tentang Yesus Kristus: pribadi kedua dalam Allah Tritunggal. Yesus adalah saudara kita. Dia adalah yang sulung dari semua ciptaan Tuhan. Hubungan akrab antara Yesus dan Allah yang dirasakan sebagai hubungan Bapak-Anak, justeru menjadi ‘warna dasar’ kehidupan Yesus sepenuhnya, yang selanjutnya diwariskan kepada para murid, lalu kepada Gereja perdana, dan kini kepada kita kelompok biarawan/wati.  
Dalam segala-gala Yesus senantiasa tampil sebagai “Anak Yang Terkasih,” sekaligus sebagai rupa Allah-Yang-tak-nampak. “Siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapak” (Yoh14:9). Selain sebagai saudara sulung, Yesus juga menjadi ‘soko guru’ kehidupan membiara yang kita miliki. Spiritualitas, atau warna kehidupan rohani kita haruslah “Kristosentris” yakni terpusat dan terarah pada Yesus Kristus yang kita sembah dan kita abdi. Yesus Kristus telah memberi dasar-dasar hidup membiara yakni taat seutuhnya dan selengkapnya kepada Injil dan setia dalam persekutuan Allah Tritunggal.
Dengan demikian, setiap karya yang kita lakukan, harus menunjukkan bahwa kitalah murid-murid Kristus, atau pengikut Kristus sejati. Itu berarti, SALIB, PELAYANAN dan KORBAN adalah pilihan dan komitmen kita bersama. Jika kita memang konsekuen dengan komitmen atau pilihan ini, maka sekali kelak kita akan bangkit dan hidup bersama Yesus Kristus.
Pada dinding sejarah kehidupan umat manusia, dan Gereja Katholik secara khusus, dapat dilihat sebuah jalan praktis dan sangat cemerlang yang ada dalam pribadi Bunda Maria. Ia telah tampil sebagai tokoh ideal yang mengikuti jalan Tuhan dengan penuh iman dan pengharapan yang total akan janji Allah baginya. Dalam usaha menjawab panggilan mengikuti Yesus, semua anggota kongregasi memandang kepada Bunda Maria sebagai contoh manusia perkasa, yang telah menyerahkan seluruh diri kepada Tuhan (Peraturan Hidup, nomor 10). 
Tentang Roh Kudus: Roh Kudus adalah jiwa persekutuan atau kekuatan komunitas. Kalau memang Roh Kudus menjadi jiwa komunitas, maka dengan sendirinya Roh yang sama menjadi jiwa biara dan sumber kehidupan tarekat, kekuatan yang senantiasa menggerakan semua karya pelayanan komunitas. Secara umum dapat dikatakan di sini, karya kita di tengah orang-orang kecil dan sederhana mustahil berjalan sebagaimana diharapkan, bila tidak ditunjang langsung oleh karya Roh Kudus.
Para teolog dan spiritualis sama-sama mengakui Roh Kudus sebagai satu kekuatan Ilahi yang Dialah jiwa Gereja, jiwa para beriman dan tenaga surgawi yang menggerakan segala-galanya. Dalam Kitab Suci, baik PL maupun PB di sana terdapat ungkapan sangat banyak dan amat kaya mengenai siapa dan apa itu Roh Kudus. Berikut, satu dua kutipan sebagai contoh. Ada yang menyebut:
Roh Allah: asal dari Roh itu adalah Allah sendiri. Roh Kebenaran: tujuan yang akan dicapai dalam setiap perjalanan hidup manusia adalah kebenaran sejati yang diilhami Roh Kudus. Roh Kudus: karya dari kekuatan tersebut (kekuatan Ilahi) selalu membimbing kepada kekudusan. Roh Ilahi: awal hidup Roh tersebut tidak mampu difahami oleh akal dan budi manusia yang rapuh.
Kej 1:2: “…….Bumi belum terbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air; Kej 41:38; Ayp 33:4; Mt 3:16 dll.Yoh 14:16-17, Aku akan meminta kepada Roh Kudus. Yes 63:10, “…..tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka; dan ia sendiri berperang melawan mereka. Sebagaimana disebut tadi, Roh Kudus dijuluki dengan nama Roh Tuhan, Roh Yesus dan Roh Allah yang senantiasa menggerakkan Gereja untuk semakin bertumbuh dan berkembang. Dengan demikian, kita secara pribadi, komunitas dan tarekat menerima kekuatan yang sama yang diberi Tuhan ke pangkuan Gereja. Kekuatan yang sama menyanggupkan kita untuk tidak saja berdialog dengan semua orang, melainkan juga meneguhkan hati, iman dan pengharapan untuk bersaksi tentang cinta kasih yang diwariskan pendiri kita.
            Roh Kudus yang sama memampukan kita untuk saling mengerti, saling menerima perbedaan tanpa menghakimi, saling melayani tanpa menuntut, saling memberi tanpa menghitung, saling menghormati dengan sikap hati yang jujur, itikad yang tulus dan terbuka. Roh Kudus yang sama menghilangkan perbedaan dan kecurigaan di antara sesama warga tarekat, rekan se-Gereja, tetangga di dalam masyarakat umum. Roh Kudus yang sama memberi serta meneguhkan harapan untuk hidup dan bertahan sebagai warga dalam komunitas, dalam tarekat atau kongregasi dengan tujuan dan sasaran tertentu sesuai konstitusi kita. Roh Kudus membesarkan hati dan membantu kita untuk membangun persaudaraan sejati di tengah perbedaan yang mungkin sering membawa hal-hal kurang menyenangkan di antara kita. Roh Kudus memberanikan kita untuk mencari jalan dan cara pastoral hidup yang lebih baik dengan berlutut di Hadirat Allah. Roh Kudus membantu kita untuk dapat berjumpa dengan jati diri dan sentra hidup rohani kita.
            Sebagai kongregasi, segala yang kita lakukan demi dan atas nama kepentingan orang kecil dan mereka yang sangat sederhana, semuanya mustahil berjalan dengan baik, apabila hal itu tidak ditunjang langsung oleh karya Roh Kudus. Sebagaimana Yesus Kristus yang dalam seluruh hidupnya senantiasa membutuhkan daya ilahi dan terang Roh Tuhan, maka kita selaku pengikut-Nya juga membutuhkan terang Roh Kudus yang sama.
Setelah kita melihat tiga kekuatan dalam tubuh Gereja dan juga kunci kehidupan  sebagaimana yang terpancar dari dalam kehidupan Bunda Maria, kita sesungguhnya diingatkan akan hidup spiritual dan kepentingan dimensi tidak kelihatan (hidup  rohani) dari pola kehidupan membiara. Berdasarkan charisma yang kita miliki, Ibu Pendiri Madre Maria Pia mendorong kita untuk senantiasa menyimpan dalam hati dan budi semangat Kongregasi, yang secara lengkap dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Semangat kita didasarkan pada warta Kitab Suci tentang manusia yang diciptakan menurut gambaran dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Demikian juga, karena telah ditentukan menjadi sama seperti Dia (Kej 3:5), manusia dipanggil untuk bertumbuh subur dalam cinta dan untuk menguasai serta mengatur segala ciptaan (Kej 1:28). Walaupun karena dosa manusia telah berubah dalam corak hidup dan tingkah lakunya, manusia tetap dijaga oleh Allah dalam tujuannya (Kej 3:15), yang diwujudnyatakan di dalam Putera yang menjadi manusia” (Peraturan Hidup, nomor 3).
Hemat saya refleksi kita akan menjadi lengkap berkenaan dengan kutipan Peratuan Hidup nomor ketiga ini, jika langsung disambung dengan nomor berikutnya yakni nomor keempat sebagai berikut:
“Yesus adalah Gambaran sejati dari Allah yang tak kelihatan (Kol 1:15), teladan (Yoh 1:3) dan kepenuhan segala ciptaan (Ef 1:6-12), dan oleh Misteri Salib dan Kebangkitan (Fil 2:5-11) semua orang dipanggil untuk menjadi serupa dengan GambaranNya (Rom 8:29). Roh Kuduslah yang memulihkan di dalam kita gambaran Allah yang sesuai dengan rupa Kristus (Rom 8:14-17; Kej 14:16) melalui Gereja yang Ia kasihi, bimbing dan lindungi. Dialah meterai dan jaminan, pembagi segala rahmat dan karunia (1 Kor 12:4-11; Ef 4:11-16) yang memungkinkan semua dan setiap orang di dalam Gereja untuk menyerupai Kristus” (Peraturan Hidup nomor 4).
Dengan menghayati spiritualitas kongregasi secara perseorangan dan bersama, kita saling membantu mewujudkan perutusan kongregasi, dengan mengutamakan karya pelayanan kepada mereka yang menderita ketidak-adilan di dalam masyarakat. Kita mewujudkan karya perutusan ini dalam ikatan kaul yang mengungkapkan penyerahan diri kita seutuhnya kepada Tuhan. Panggilan kita adalah mengikuti Dia sebagai Hamba Yahweh. Dalam perspektif Yesus, menjadi hamba adalah tunduk di bawah salib untuk memperoleh mahkota kebangkitan dan anugerah kehidupan.  

Spiritualitas Salib dan kita


Ibu Pendiri Kongregasi telah membuktikan suatu kedekatan yang sangat khas dan amat istimewa dengan Yesus dalam mengamalkam misteri Salib, spiritulitas pengharapan, dan penampilan penuh iman di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa, sebagaimana terpateri dengan sangat indah dalam diri Bunda Maria (Peraturan Hidup, nomor 10). Sudah seharusnya SPIRITUALITAS SALIB, dimana Yesus Penebus sudah menjadi sependeritaan, sepenanggungan, dan senasib dengan manusia, harus pula menjadi sumber inspirasi kehidupan Anda: apakah itu hidup pribadi, atau komunitas dan kongregasi secara keseluruhan. Makna penyilihan ada secara cemerlang dalam rahasia Salib! Untuk itulah kenyataan salib tak dapat dielakkan dari seluruh kehidupan kita.” Bunyi pernyataan ini mengarahkan perhatian kita pada pengertian: Salib selalu identik (sama dengan) karya kongregasi. Jika toh spiritualitas tarekat adalah penyilihan, dan inti penyilihan ada pada misteri salib, maka sekali lagi harus diulang di sini bahwa seluruh kehidupan Yesus Kristus merupakan sebuah undangan bagi kita untuk “berbagi rasa” dalam derita dan “ikut mengambil bagian” dalam penderitaan dan hidup sesama.
Ibu Pendiri Kongregasi dan anda semua yang bergabung di dalamnya sudah terpesona, terpaut dan tergerak hati serta terikat untuk mengamalkan cinta kasih dengan melukis dalam karya-karya pelayanan yang konkret di antara sesama. Di sini Anda sangat membutuhkan iman dan pengharapan untuk berani terlibat dalam “menanggung salib.” Supaya Anda dapat terlibat dalam masyarakat yang selalu menjerit meminta bantuan, selain dibutuhkan DEKAT DENGAN TUHAN, juga dibutuhkan KEBERANIAN untuk berjalan bersama mereka dan siap membantu mereka sesuai kebutuhan dan kepentingan mereka. “Seperti Yesus sang Sabda yang sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita, dan menyatu dalam seluruh kehidupan manusia, kecuali dalam hal dosa, demikian juga seluruh kehidupan apostolis kita terarah kepada persatuan dengan Yesus yang berarti bersatu dengan sesama, terutama dengan sesama yang kecil dan menderita (Mt 25:40).
Prinsip dasar yang hendaknya selalu diperhatikan adalah bahwa SPIRITUALITAS akan selalu meresapi seluruh pribadi dan setiap karya, apabila kita senantiasa BERDOA: dengan berdoa, Allah hadir di dalam jiwa kita; senantiasa HENING  dan SUNYI: dengan hening dan sunyi, kita mampu memelihara hidup rohani dan mempertahankan cara hidup seperti yang telah kita pilih; senantiasa MENCARI AKAR KEHIDUPAN  dan AKAR KEKUATAN PRIBADI: dengan cara ini kita semakin mencintai pola hidup membiara yang sedang kita arungi; senantiasa mencari akar kehidupan dan akar kekuatan KOMUNITAS  dan KONGREGASI, agar kita tidak mudah goyah oleh goncangan jaman yang semakin tidak menentu. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar