Translate

Kamis, 19 Juni 2014

Peringatan Liturgis Beata Maria Pia Mastena 27 Juni 2014

" Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah daripadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan" (Mat. 11,28-31)



 




Hati Yesus dalam hidup Beata Maria Pia

Dengan merenungkan Sabda, kita ditakjubkan oleh intuisi dari para kudus yang tahu meresapi Misteri Cinta Ilahi bukan karena studi yang mereka buat melainkan karena mereka telah menanggapi tawaran rahmat Allah. Dengan mengikuti jejak Beata Mastena, kita disadarkan bahwa devosi kepada Hati Yesus selain telah berakar dalam dirinya, juga berbeda dengan devosi-devosi lainnya karena merupakan dasar biblis dan menjadi pusat iman kristen; yaitu Hati Allah, cinta kasih-Nya yang besar kepada manusia yang tampak jelas dalam diri Kristus. Kasih Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus ini adalah juga merupakan jantung dari Karisma kita. Dari sini, kita memahami bahwa hidup dan karya dari Beata kita mengungkapkan suatu "pulang-pergi" yang terus menerus kepada sumber cinta, yaitu Hati Kudus Yesus untuk menjadikan dirinya sendiri cinta, anugerah, memiliki hati yang berkobar dan meluap-luap oleh karena kerinduan untuk selalu mencintai dengan lebih baik. Di antara semua refleksinya tentang Hati Kudus Yesus, kita melihat gambaran Wajah Yesus yang menampakkan cinta Bapa. Membaca beberapa tulisan Beata Maria Pia  tentang Hati Kudus Yesus, saya melihat pancaran Karisma yang terkandung dalam kerinduannya untuk mewartakan, berkarya, dan menghibur.

"Saya ingin agar setiap suku kata yang keluar dari mulutku adalah satu undangan yang mengajak jiwa-jiwa untuk datang menyembah, memuliakan, dan mencintai Hati Yesusku yang terkasih". Tanpa berniat untuk memaksakan keinginannya, saya merasa bahwa kerinduan Beata Mastena sama dengan kerinduan untuk menyebarkan gambaran Yesus yang manis sampai ke pelosok dunia. Dan saya juga melihat satu kerinduan untuk menyilih yang terdapat dalam kalimat: "Saya ingin agar setiap karya yang saya lakukan dengan tangan saya ini, menjadi satu karya terus-menerus di seputar Hati Yesusku yang termanis. Dengan tangan yang satu, saya akan menghalangi dosa manusia yang melukaiNya, sedang dengan tangan lainnya, saya akan membentuk satu mahkota bunga dengan penuh cinta sebagai ganti mahkota duri". Dan untuk menyimpulkannya, ada juga kerinduannya untuk memulihkan dalam karyanya yang menghibur: ".... Dengan tahu menjadi Penasihat Hati IlahiNya yang penuh kasih dan tahu menyenangkan HatiNya, betapa banyaknya sukacita terdalam .... Beranilah! Selalu setia, selalu rasul, demi Wajah Kudus Yesus!". Ikatan antara Hati dan Wajah Yesus menyatakan lagi kepada kita bahwa dalam Yesus, ada satu kesatuan yang sempurna. Dengan mengomentari gerak tangan dari Beata di seputar Hati Yesus, Prof. Nicola Gori menarik kesimpulan yang sama ini: Hati dan Wajah sangat melekat erat dalam diri Yesus dan dalam hati Maria Pia.

"Setiap karya yang akan saya kerjakan dengan tangan ini .......". Kita menemukan dalam pikiran Madre inti dari panggilannya, yaitu menjadi pekerja yang tekun dan teliti dalam merawat dan menyembah Hati Yesus. Dia sendiri menjelaskan kepada kita bahwa yang diperlukan di sini adalah kedua tangannya sendiri, namun susah payahnya untuk bekerja serta ketekunannya  ini adalah untuk menggenapi suatu karya yang sifatnya abadi. Karya dari Beata ini memiliki dua sisi yang sama: yang pertama adalah kemampuan serta kekuatannya untuk membela dari hal-hal negatif (menghalangi), dan yang kedua adalah membangun (membentuk). Tindakannya dalam membela dan membangun ini sangat berhubungan erat; merupakan dua aspek dari satu intensi yang sama, yaitu mencintai. Madre Maria Pia ingin melaksanakan suatu "pekerjaan yang berkelanjutan", mendalam, tanpa batas. Ia ingin menggenapkan suatu pelayanan yang siap sedia menyerahkan dukungan penuh bagi Yesus.

Madre Mastena mengenakan pakaian seorang pekerja yang mampu, agar dengan ketekunannya setiap hari dapat menjauhkan Hati Yesus dari "dosa manusia" yang bisa melukainya. Namun dalam wakktu yang sama, ia ingin mengganti mahkota duri yang mengelilingi hati Yesus ini dengan satu mahkota baru yang dibuat oleh tangannya sendiri, satu mahkota yang berupa "rangkaian bunga". "Mahkota bunga ini digunakan sebagai ungkapan devosi, kasih sayang, kelembutan hati, syukur, berkat. Tindakannya menanggalkan mahkota duri ini untuk dirinya sendiri merupakan karya pengurbanannya yang penuh cinta sebagai ganti dari kelemahan manusiawi dan kelemahan roh, di hadapan satu cinta yang besar yang dirasakan Maria Pia sejak masa kecilnya. Hati Kudus sangat berkaitan erat dengan Wajah yang dengan bermahkota duri, ia akan mengalami penderitaan yang sama serta penebusan yang sama, dan yang kepadanya Maria Pia akan mencurahkan semua rasa cintanya. Mencintai berarti menghadirkan diri secara konkrit di hadapan penderitaan sesama, untuk mendalami ikatan antara antara darah dan kengerian sebagai meterai dari pengorbanan Kristus. Namun di dalam ini terdapat penebusan dan keselamatan bagi siapa saja yang meneruskan pesan heroik dan dramatis ini.

Beata kita telah hidup tersembunyi dalam Hati Yesus, sambil bekerja dengan tangannya, dengan perasaannya,  dan dengan kasih sayang dalam hatinya untuk mendedikasikan diri secara total kepada Allah dan kepada sesama saudara dengan penuh cinta dan pengertian demi mambangun hati manusia seturut Hati Yesus. Cinta dan semangatnya menunjukkan jalan kepada kita supaya kita dapat tiba pada kesatuan kekal dengan Allah dan tiba pada pemberian diri yang total untuk menghibur sesama yang tergores wajahnya dan yang terluka hatinya. Untuk itu, kita perlu meminta setiap hari kepada Tuhan agar kita dianugerahi hati yang sama seperti HatiNya.
Semoga Hati Terkudus Maria membimbing langkah kita sehingga setiap hari kehendak Allah digenapi dalam diri dan hidup kita masing-masing. Semoga Beata Maria Pia membantu kita dalam menjalankan amanatnya: "Di dalam hati kalian, haruslah dibuat satu taman pilihan, di mana Yesus, Sang Pengantin menemukan kesejukan. Semoga tanah gembur dan berpupuk adalah kerendahan hati. Semakin kalian merendahkan diri dalam kesahajaan dan kehinaan, kalian akan semakin berkenan pada Sang Tukang Kebun Ilahi" Dengan penuh kasih sayang, saya ucapkan Selamat Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus ditemani oleh Beata Maria Pia Mastena!



Madre  Annalisa Galli



Tidak ada komentar:

Posting Komentar