Translate

Minggu, 01 Maret 2015

Panggilanku - 1 -



SUPAYA AKU DAPAT MELIHAT”( Mat, 20:33)



                                “ Supaya aku dapat melihat” adalah sebuah kalimat  yang terus saya ungkapkan dalam setiap  doaku, dan menjadi sebuah motto dalam ziarah panggilanku. Aku sungguh menyadari bahwa mata hati saya sedang buta. Buta karena disilau oleh egoisme diri yang masih menyelimuti diriku. Buta karena saya tidak sanggup melihat indahnya kehidupan yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Karena buta, saya  terasa hidup kabur dan tidak terlihat dengan jelas, sebab telah dihalangi oleh perasaan negatifku.  Karena buta pula saya merasa hidup itu sangat gelap, sehingga membuat saya tak mampu melihat sesamaku yang sedang memohon pertolongan dariku.
                         Saya bersyukur bahwa Tuhan itu Maharahim, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Ia mendengarkan ketika saya menjerit: “ Yesus anak Daud Kasihanilah aku” dan membuka mataku ketika aku meminta: “ Tuhan supaya aku dapat melihat.” Karena kasih-Nya, Ia mendengarkan jeritanku. 
         Aku sungguh merasakan kebaikan dan kebesaran Allah sejak aku dibentuk dalam rahim ibuku. Melalui kasih sayang   orangtuaku; ibu yang melindungi dan membawa saya ke mana saja melangkah selama sembilan bulan dalam kandungannya, ayahku yang penuh harapan menginginkan saya menggantikan posisinya menjadi pewaris dalam keluarga bila terlahir bayi lelaki. Tapi ternyata aku terlahir sebagai seorang bayi perempuan, karena itu ayah sedikit menolak  kehadiranku. Kakak-kakakku serta semua anggota keluarga besarku yang selalu membantu ibuku. Ketika aku lahir, Selasa 28 Juni 1988, kasih Allah kurasakan semakin besar, karena walaupun ayah sedikit menolak, tapi aku bangga karena ayah tetap menerimaku sebagai anaknya.  Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Ini karena mereka sangat menyayangiku.
                                Allah mempunyai rencana terindah dalam hidupku. Ia tidak menghadirkan aku sebagai anak laki-laki seperti yang diharapkan oleh ayahku, aku disembuhkan dari sakit gigi selama enam  tahun memberikan terang ketika aku berada dalam kegelapan,  Waktu itu aku masih buta sehingga saya terus bertanya; mengapa Tuhan tidak menghadirkan aku sebagai anak laki-laki  supaya bisa menjadi pewaris keluarga ayah dan membuatnya bahagia? Mengapa Tuhan menyembuhkan penyakitku ketika aku sudah tidak ada harapan untuk sembuh dan memberi terang  ketika aku dalam kegelapan? Pertanyaan ini terjawab  karena Tuhan punya rencana khusus atas diriku.
      Allah telah memanggil aku sejak dari kandungan ibuku. Ketika aku lahir di tengah keluargaku, tunjukkan kepadaku. Tapi pada saat itu aku belum menyadari akan hal itu. Aku berpikir bahwa itu hanya sebuah kebetulan. Sekarang baru saya mengerti bahwa semua peristiwa yang Tuhan ukirkan dalam lembaran kehidupanku dimasa yang lalu  bukanlah sebuah kebetulan melainkan persiapan bagiku untuk menjawabi panggilan Tuhan.
        Tuhan berinisiatif memanggilku, karena itu Ia selalu menyertai hidupku. Ia selalu membukakan mataku dikala aku meminta: “Tuhan supaya aku dapat melihat” hal ini sungguh kuraskankan dalam perjalanan panggilanku mulai dari masa pembinaan awal; aspiran hingga novisiat dalam konggregasi Wajah Kudus ini. Berkat kekuatan Tuhan yang terus mengalir dalam bejana kehidupanku, kebaikan dan kerahiman hati-Nya yang selalu mendengarkan aku ketika aku menjerit; “ Yesus anak Daud kasihanilah aku”  akhirnya pada tanggal 8 Desember 2014 bertepatan dengan hari raya Bunda Maria dikandung tanpa Noda, saya mengikrarkan kaui pertama bersama dengan teman seperjalananku, untuk menambah deretan anggota religius Wajah Kudus, dengan menghayati Spiritualitas yang telah diwariskan oleh Beata Madre Maria Pia Mastena, yakni; Menyebarkan, Menyilih dan Memulihkan Wajah Yesus yang manis dalam diri kaum miskin dan tersisih yang kita jumpai dan layani.
                        Akupun menyadari bahwa kaul pertama adalah awal dari satu perjalanan perjuangan hidup panggilan. Saya percaya, Allah yang telah memanggilku akan setia menemanku dalam menghadapi setiap peristiwa hidupku.


DOA
      Ya Allah yang berbelaskasih, cinta-Mu padaku tanpa syarat, bagaikan laut tak bertepi. Aku bersyukur bahwa aku berharga di mata-Mu, yang  walaupun di mata manusia aku bukanlah orang yang berharga. Aku hanyalah sebuah bejana tanah liat yang mudah retak dan pecah. Aku bersyukur bahwa Engkau sungguh memperhatikan aku, dan mengangkat aku sebagai alat dalam tangan-Mu. Engkau menguatkanku dikala saya merasa hidupku tidak berarti karena kerapuhan dan kelemahanku. Dengan tangan-Mu yang lembut, Engkau mengangkat bejana kehidupanku serta memulihkan kembali setiap retakan akibat dosa–dosaku. Dengan Sabda-Mu memampukan aku melihat dan memahami arti dari kehidupan ini. Dengan kuasa kasih-Mu Engkau  memampukan aku untuk mendengar suara panggilan-Mu dan karena dorongan Roh Kudus-Mu aku berani mengatakan“Ya“ atas panggilan-Mu itu untuk mengikuti Yesus Putra-Mu, Amin.


                                                                                             Sr. Waldetrudis Muke, CSV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar