Translate

Kamis, 05 Maret 2015

Suster Wajah Kudus bermisi ( 2 )

  Berpetualang dalam Cinta, dari Wolokoli 

hingga  Amerika Latin



bolivia 1
 Suster Maria Fifi Sumanti, CSV, bersama anak-anak di Kota Bolivia

Suster Maria.., demikian perempuan kelahiran Wolokoli, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini biasa disapa oleh orang-orang yang mengenalnya. Anak dari Paulus Poa dan Ibu Victoria Lamen ini memilih hidup membiara menjadi suster (Sr) dan kini telah bertugas di berbagai negara, seperti Roma, Italia dan Bolivia, Amerika Latin dalam CONGREGAZIONE DEL SANTO VOLTO (CSV).Saat berkomunikasi dengan Floresnews.com, perempuan pemberani bernama lengkap Sr. Maria Fifi Sumanti, CSV, mengungkapkan kegembiraan iman yang telah mengantarnya menjadi seorang pekerja penabur benih cinta kasih di dunia ini. Berikut kisah dan refleksi imannya yang dikirim ke redaksi media ini dari Kota Bolivia:
********
“Sungguh seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tanganku”.(Yer. 18,6)
Jalan Tuhan memang sungguh luar biasa, tak terpahami oleh pikiran manusia, hanya bisa dialami. Setelah dua tahun saya mengenal dan tinggal bersama para suster Wajah Kudus (pertama di Koting kemudian di Ende), bersama empat teman yang lain, kami diutus ke Roma untuk melanjudkan formasi dan pendidikan sebagai suster dalam Konggregasi Wajah Kudus.
Jauh dari tanah air, jauh dari orang tua dan keluarga, dan berada di satu negara dengan kultura, tradisi, mentalitas dan pola pikir yang berbeda memang tidak gampang. Semua terasa asing dan baru. Tetapi, cinta, kasih sayang dan perhatian yang tulus dan sederhana dari para suster Wajah Kudus di Italia, membuat saya merasa betah, kuat dan berani dalam menghadapi situasi yang baru.
Memang, bagi orang – orang yang berani untuk meninggalkan segala galanya demi kerajaan Allah, Tuhan selalu menepati janji – janjinya. “Yesus tidak pernah mengambil apa – apa dari dirimu, tapi Dia memberikan segalanya untukmu” (Benedictus XVI), dan, setiap orang yang kerena namaku, meninggalkan rumahnya, saudaranya laki – laki atau saudaranya perempuan,bapa atau ibunya, anak – anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mt 19,29). Dan janji yesus, sungguh saya alami dan rasakan dalam hidup dan
petualangan saya dalam menjawabi panggilan Cinta Tuhan.
Masa formasi, pendidikan dan studi di Roma, membuka wawasan berpikir saya. Di sini saya di bentuk bukan hanya dari segi intelektual tetapi juga menjadi pribadi yang matang sebagai manusia, kristiani dan biarawati, seperti berulang kali paus emeritus Bedictus XVI dalam katekesinya mengatakan; “menjadi kristiani bukan sebuah keputusan etik atau moral tetapi adalah sebuah pertemuan secara pribadi dengan Yesus”. Pada masa formasi, pendidikan dan studi inilah saya mengalami betul betul mengalami pertemuanku secara pribadi dengan Tuhan.
Pembinaan masa novisiat inter – congregazionale di Roma, bersama calon biarawan biarawati yang berasal dari seluruh dunia, dan pengalamanku bekerja di paroki dan di kominitas – komunitas di Italia , mendorong saya untuk mengenal, mencintai, menghargai apa yang dinamakan “perbedaan”. Mengerti dan memahami bahwa “perbedaan” itu indah. Bahwa yang berbeda bukan ancaman, tetapi adalah sebuah kekayaan dalam proses pembentukan pribadi, dalam menjawabi panggilan Tuhan. Pengalaman saya dengan yang “berbeda” menuntut saya untuk keluar dari pikiran dan mentalitas saya, menuntut saya untuk merobohkan tembok – tembok yang menghalangi saya untuk bertemu dengan yang lain, dan berusaha untuk menerima dan mencintai apa adanya.
Tidak bisa di ingkari bahwa, menjadi suster banyak kesulitan dan tantangan yang saya harus hadapi. Pertanyaannya, apa yang membuat saya bisa bertahan dalam menghadapi semuanya? Setiap pilihan hidup, kita selalu mengalami konsekuensi bebasnya, konsekuensi yang muncul kerena pilihan bebas kita. Setiap pilihan hidup selalu ada kesulitan. Begitu juga dalam menjawabi panggilan Tuhan dan mengikutinya secara dekat, dengan hidup miskin, murni dan taat, juga ada banyak suka dan dukanya. Tetapi semuanya itu bisa dihadapi kalau kita sendiri memiliki hidup doa dan pertemuan secara pribadi dengan Tuhan. Merasa dicintai secara khusus oleh-Nya. Yesus sendiri pernah berkata; “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”, Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan”(Mt 11, 28 -30).
Berangkat ke Bolivia…
Tuhan mempunyai cara tersendiri dalam menelusuri dan menulis “sejarah” dalam kehidupan setiap manusia. Sesungguhnya hidup adalah sebuah perjalanan dan sebuah perjuangan yang terus menerus. Saya membayangkan hidup saya seperti seorang pengembara yang terus menerus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kalau hidup sebagai seorang pengembara, berarti apa yang perlu saya bawa dalam perjalanan saya hanyalah hal-hal yang esensial yang betul-betul saya butuhkan dalam perjalanan itu. Berbekal Iman, cinta dan keberanian pada tanggal 5 Mei 2012, saya meninggalkan Roma dan sekali lagi berangkat menuju tanah terjanji Bolivia – Amerika Latin. Sekali lagi, saya di hadapkan pada mentalitas, budaya, tradisi, kepercayaan, bahasa, dan ilkim yang baru. Saat saat awal memang terasa sulit. Saya merasa begitu sendiri diantara begitu banyak orang yang tidak pernah saya lihat, kenal, dan bayangkan sebelumnya.
Semuanya begitu sulit. Tetapi bersamaan dengan itu, sering terlintas dalam pikiran saya, pertanyaan Yesus kepada Petrus di tepi danau Galilea dan saya berpikir, saat ini Tuhan ingin menulis “sejarah tentang cinta-Nya yang begitu besar kepada umat Allah di Bolivia bersama – sama dengan saya, dan sekarang, saat ini, saya hanyalah alat yang di pakai Tuhan untuk menulis sejarah tersebut. Dan hari ini , yesus kembali bertanya; “Fifi, apakah engkau mencintai aku lebih dari mereka yang lain? Tuhan, engkau mengetahui segala galanya. Engkau tahu bahwa aku mencintaimu”, (cfr.Yoh 21,17).
Masih membayang dalam ingatanku, pesan kakak sebelum keberangkatanku ke Roma untuk pertama kali, “Salib yang terpancang di depanmu, itulah yang menyapamu. Sering mengundang, kadang menantang. Ia merasa bahwa imanmu semakin dewasa. Kemudian beliau melanjudkan lagi dalam pesannya; proses iman dalam diri adalah dari keadaan tanpa bentuk, besok engkau akan memperoleh bentuk tertentu, bahkan kadang dalam sikon gelap juga dalam keadaan kecewa, sadarilah bahwa hidup mengandung cobaan – cobaan, dan cobaan mengandung misteri, misteri mangandung kasih”. Beliau mengingatkan kepada saya untuk selalu dan berusaha “mencintai misteri”. Dan mengikuti Yesus secara khusus dalam hidup Miskin, Taat dan Murni adalah sebuah Misteri yang mangandung banyak cobaan dan salib yang harus dipikul dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati.
Hari ini, setelah hampir tiga tahun saya berada di Bolivia, hanya puji dan syukur kuhaturkan kepada yang maha kuasa atas cintaNya yang begitu besar dan nyata dalam hidup saya. Oleh karena itu bersama pemazmur saya dengan gembira mangaggungkan nama Tuhan;“Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” ( Psalm. 103, 1-4). (akr/sf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar